Desember 31, 2011

Harapan

Diposkan oleh Yolizz di 00:11 15 komentar Link ke posting ini
2011 sudah hampir usai, dan status-status di jejaring sosial pun mulai latah dengan ucapan "met tahun baru" :|. Bagi saya pribadi, nothing special sama yang namanya tahun baru, kenapa? Mungkin karena saya memang tidak pernah merayakannya, entah bersama keluarga, teman, apalagi pacar. Satu-satunya hal yang bikin saya suka sama malam tahun baru adalah dengan adanya film-film bagus di tipi, dan itulah ritual rutin saya (dan keluarga) selama ini.

2012 sudah hampir mendekat, orang-orang pun mulai sibuk membicarakan resolusi tahun barunya mereka. Sedangkan saya? Sedang malas semalas-malasnya untuk membuat resolusi -_-". Walaupun kata orang resolusi itu bisa sebagai pemacu semangat untuk menjadi lebih baik, tapi entah kenapa yah tahun ini saya males banget untuk hal-hal yang seperti itu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya selalu membuat resolusi bahkan dulu saya tuliskan resolusi itu di 'buku spesial' saya, tapi sekarang? Jangankan susah-susah mikir buat bikin resolusi, lha mau mengkhayal aja udah males duluan :|

Saya sendiri sebenarnya juga bingung apa yang terjadi dengan diri saya selama satu tahun terakhir ini. Saya yang sekarang 'berbeda' dengan saya yang dulu. Mungkin memang tidak banyak orang yang menyadarinya (atau memang tidak ada sama sekali), tetapi diri saya sendiri jelas tahu bahwa ada yang 'berbeda' dengan diri saya satu tahun belakangan ini.

Saya sedang berada di fase di mana saya kehilangan harapan. Karena kehilangan harapan itulah makanya saya jadi takut berharap. Lucu yah? Yah, mari kita tertawakan 'kelucuan' saya tersebut.

Orang bilang manusia yang tanpa harapan itu seperti seonggok daging yang hanya bisa berjalan dan berbicara. Itu benar! Tetapi jangan lupa juga, harapan juga bisa memberikan rasa sakit yang tidak tertara rasanya jika tidak dapat terpenuhi. Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat seperti: "jangan mengkhayal ketinggian deh" atau "jangan mimpi deh lo!" atau "jangan berharap terlalu banyak". Ya, itu semua karena harapan dapat melambungkan sekaligus menjatuhkan pada saat yang nyaris bersamaan.

Dan sampai detik ini pun saya masih malas semalas-malasnya untuk bikin resolusi, walaupun begitu saya tetap punya target untuk dicapai di tahun 2012 nanti, karena saya tidak mau sama yang namanya "go with the flow". Bagi saya yang hanya mengalir mengikuti arus itu hanyalah sampah, toh ikan pun berusaha untuk berenang melawan arus. Tapi tidak perlulah target-target itu digembar-gemborkan atau dicanangkan dengan istilah RESOLUSI. Toh, tanpa seperti itu pun saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan.

Teringat tahun baru tahun kemarin rasanya saya semakin nelangsa, karena tahun baru saya isi dengan tangisan. Dan percaya ataupun tidak (karena saya sendiri rasanya ga percaya) tahun baru ini pun butiran beningnya mengalir lagi T_T

Rasanya saya pengen menertawakan atau bahkan teriak-teriak memarahi diri sendiri, karena itu artinya sudah satu tahun saya menangisi hal yang sama :(, dan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa saya menjadi "berbeda" sekarang ini.

Jadi intinya? Ya ga tau! Saya sendiri bingung apa sebenarnya inti dari tulisan saya tengah malam ini. Sebenarnya saya hanya sedang mellow, ga punya temen, dan kepikiran yang macem-macem :'( berusaha mencari tempat untuk teriak-teriak, tapi rasanya situs-situs jejaring sosial sudah bukan tempatnya lagi. Akhirnya saya teringat sama blog yang sudah hampir jamuran ini, dan mulai mencoret-coret di sini lagi.

Walaupun ga jelas apa inti dari tulisan ini, tapi yang pasti saya tetap berharap (lho berarti masih punya harapan?) bahwa tahun baru teman-teman semua menyenangkan, dan makin baik di tahun 2012 nantinya... Happy new years pals :)
Lanjut yuukk..

Agustus 28, 2011

Hitam dan Putih

Diposkan oleh Yolizz di 22:47 21 komentar Link ke posting ini
.
Tali yang ditarik itu, ketika dia semakin kencang, itu tandanya si tali akan segera putus... begitu juga dengan masalah, semakin terasa sesak, semakin terasa kronis dan menyakitkan, berarti semakin dekat pula dengan jalan keluarnya... - Borma -
Aku selalu meyakini bahwa dunia ini selalu memiliki dua sisi yang bertolak belakang, seperti langit dan bumi, pria dan wanita, baik dan buruk, miskin dan kaya, pintar dan bodoh, hitam dan putih... dan aku pun selalu berpendapat meskipun kedua hal tersebut sangat bertolak belakang, tetapi keduanya saling melengkapi bahkan saling membutuhkan. Pria dan wanita tentu saling melengkapi dan saling membutuhkan, seseorang bisa disebut baik karena ada orang jahat, seseorang bisa disebut kaya karena ada orang miskin. Bayangkan apa yang akan terjadi jika di dunia ini tidak ada orang miskin?! Semuanya kaya, semuanya memiliki harta yang melimpah. Lalu siapa yang akan jadi buruh bangunan, di saat semua bisa menjadi direktur? Bagaimana orang-orang kaya itu bisa membangun rumah mewah kalau tidak ada tukang bangunan?! Dan mereka mau beramal kemana di saat tidak ada orang yang bisa diberi sedekah?! Karena itu aku sering merasa geli sendiri kalau ada pejabat yang berkoar-koar dengan slogan "menghapuskan kemiskinan", lho? Emangnya bisa? Ga masuk akal! Slogannya aja udah ga masuk akal pantesan pas menjabat banyak tindakan ga masuk akal juga yang dia buat. Kalo MENGURANGI kemiskinan baru patut dicoba *eh, malah makin ngawur*

Hitam dan putih... Seperti yang aku bilang tadi, kita tidak dapat mengelak bahwa dua sisi itu hidup berdampingan dalam dunia ini. Bahkan di dalam diri seseorang pun ada 'hitam' dan ada 'putih'nya. Setiap manusia memiliki hitam dan putihnya masing-masing, jika hitam lebih mendominasi maka ia disebut orang jahat, tetapi jika putihnya yang lebih mendominasi maka ia disebut orang baik. Aku berpendapat di dunia ini tidak ada orang yang seratus persen baik, atau seratus persen jahat. Dibalik sifat baiknya pasti ada sedikit saja sifat buruknya, begitu juga sebaliknya. Jadi seseorang bisa menjadi orang yang baik atau orang yang jahat bukanlah karena dia memang ditakdirkan seperti itu, tetapi lebih kepada pilihan orang itu sendiri.

Tak terkecuali diriku sendiri... hitam dan putih pun bersemayan di dalam diriku.. dan sepertinya sisi hitamku sedang bangun dari tidur panjangnya...

Dari dulu aku tidak pernah mengijinkan diriku sendiri untuk membenci seseorang, karena bagiku membenci itu tidak pernah membuahkan manfaat apapun. Hati justru akan dipenuhi amarah dan rasa benci, sesak dan sakit, sedangkan orang itu? apakah dia akan merasakan dampak dari rasa benci tersebut? Tentu tidak! So, kalo gitu siapa yang rugi?

Di saat seseorang menyakiti hatiku, sisi hitamku akan berkata: Benci dia! Tidak usah berhubungan dengannya lagi! Tetapi sisi putihku akan berkata: Maafkan dia, mungkin dia hanya khilaf, tidak tahu, atau tidak sengaja. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku selalu membenci sisi hitamku, karena itu aku jarang sekali menurutinya. Tetapi aku juga bukanlah malaikat, apalagi Tuhan yang Maha Pemaaf.

Maka dari itu biasanya aku akan berdiam diri, menenangkan diriku, dan berdoa: Tuhan, ampunilah mereka yang telah menyakiti hatiku, dan berikanlah keikhlasan pada hatiku yang lemah ini.

Hanya saja.. terkadang sabar yang terlalu berlebihan juga tidak baik, terlalu sering cepat memaafkan mungkin juga tidak baik. aku pernah mendengar Mario Teguh berbicara, bahwa jika seseorang membuat suatu kesalahan, maka kita harus memaafkannya tetapi juga harus memperingatkannya, bahkan kalau bisa menghukumnya. Dengan begitu ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama, dan hati kita pun tidak akan tersakiti untuk kedua kalinya.

Sungguh masuk akal sekali yang dikatakan oleh pak Mario Teguh itu, hanya saja mempraktekkannya tentulah tidak mudah. Dan sekarang ini, aku sedang berjuang keras untuk melawan sisi hitamku, hanya saja rasanya aku merasa hampir kalah.. mungkinkah karena lukanya terlalu sakit atau terlalu dalam? Entahlah... tapi aku tetap mencoba..

Hitam dan putih..

tetapi tidak selalu yang hitam atau gelap itu buruk. Buktinya bintang hanya akan jelas terlihat jika kegelapan telah datang, karena itu untuk apa takut akan sesuatu yang hitam atau gelap jika kita bisa melihat keindahan dibaliknya...




p.s.: gambar diambil dari sini
Lanjut yuukk..

Juli 09, 2011

Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars

Diposkan oleh Yolizz di 23:23 7 komentar Link ke posting ini
Ga disangka ternyata tidak membutuhkan waktu yang cukup lama bagi aku untuk kembali menulis di blog ini :D. Semuanya gara-gara setelah semingguan aku ga buka blog sama sekali, pas liat di bagian dashboardnya kok yah berubah?! Ketinggalan banget deh diriku ini -_-". Ngeliat tampilannya yang catchy banget, kok yah rasanya jari-jari ini kembali pengen menari-nari di papan kunci untuk membuat sebuah coretan :)

Selama hampir dua mingguan ini aku emang sempet menghilang dari peredaran (eh, ga ada yang nanya yah?!) :p

Untuk apa? Untuk bertapa
Buat apa? Buat mempelajari sesuatu yang susahnya amit-amit, yaitu menenangkan hati *ceilah*
Sudah berhasil? BELOM! -_-"

Anyway, aku sempet membuka-buka tulisan lamaku yang tersimpan di si merah. Ada beberapa tulisan yang aku buat untuk proyek-proyek tertentu, nah salah satunya adalah proyek nulis bareng yang diadain sama Nulis Buku. Aku sebenernya pernah ikut dua kali proyek nulis barengnya, salah satunya adalah nulis bareng untuk project 'Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars'. Apa itu? Itu adalah kumpulan tulisan/surat yang dibuat, trus dikumpulin jadi satu, trus ntar diterbitin jadi buku deh :D. Doain aja moga bukunya cepet kelar deh yah. Dan sembari nulis ini, aku juga sambil dengerin lagu yang khusus dibuat oleh koordinator proyeknya yang bernama Naluri, judulnya 'Karena Kita Terlalu Fiksi'.

Lagunya ngena banget dah! Dan karena itulah, kok yah rasanya aku pengen nulis sebuah surat lagi untuk 'penghuni mars'ku. So, here it is: (btw, bakal lumayan panjang, jadi kalo mo baca silahkan siapin cemilan :p)



Dear kamu…

Apa kabarnya kamu hari ini? Sudah berapa lama yah kita tidak mengobrol? Sudah berapa lama kita tidak tertawa bersama? Sudah berapa lama kita tidak menangis bersama?
Mungkin sekarang aku bukanlah orang yang akan selalu tertawa dan menangis bersamamu. Kamu akan tertawa bersama teman-temanmu, dan mungkin akan menangis seorang diri? Jika kamu sedang tertawa mungkin kamu tidak perlu mengingatku, tetapi jika kamu sedang menangis ingatlah genggaman tanganku yang kan selalu menguatkanmu. Aku selalu ada, setidaknya hatiku selalu ada bersamamu.

Apa kamu tahu, belakangan ini aku seperti sedang sesak nafas. Aku berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk dapat bertahan. Aku pikir dengan begitu aku akan dapat bertahan, tetapi ternyata udara saja tidak cukup mengobati rasa sesakku.

Apa kamu tahu, terlalu banyak hal yang aku lakukan belakangan ini. Hmm.. sebenarnya sih tidak terlalu banyak, hanya saja aku ‘memaksakan’ untuk melakukan banyak hal. Aku pikir dengan begitu setidaknya otakku akan beralih memikirkan hal-hal yang lain. Tetapi ternyata aku salah! Dalam berbagai kesibukan ternyata otakku tetap bersikeras untuk menyisipkanmu ke dalam pikiranku.

Apa kamu tahu, belakangan ini aku semakin menyadari bahwa aku tidak bisa. Aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu. Aku sadar bahwa aku sangat membutuhkanmu. Hanya saja, pada titik ini pun aku juga menyadari bahwa aku berada pada posisi ‘menginginkan’ tetapi ‘tidak diinginkan’, ‘membutuhkan’ tetapi ‘tidak dibutuhkan’, ‘merindukan’ tetapi ‘tidak dirindukan’. T_T

Mungkin aku salah. Mungkin aku bukanlah bintang seperti yang selama ini aku kira. Mungkin aku hanyalah sebuah lilin kecil yang sinarnya dapat kamu padamkan kapan saja jika kamu tidak membutuhkannya. Seharusnya dari dulu aku tahu diri, aku tidaklah seindah bintang. Aku hanya lilin kecil, sebuah lilin kecil di mana orang lain terang dan aku pun hancur. Dan sekarang, lilin kecil ini pun harus padam.

Seseorang pernah bilang kepadaku, bahwa sangat baik jika kita bisa memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Tetapi kita juga tidak boleh lupa untuk menyayangi hati kita sendiri. Kalimat itu cukup bisa menampar diriku, dan karena itulah lilin kecil ini harus padam. Lilin kecil ini sangat ingin menerangimu, hanya saja apalah gunanya sinarku jika dibandingkan bintang-bintang yang lain, apalagi jika dibandingkan dengan sinar sang surya. Jadi pilihannya hanyalah dua, lilin kecil ini harus padam atau lilin kecil ini hancur. Dua pilihan yang sangat tidak menyenangkan.

Sebenarnya sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kemana perginya perahu kertas yang kualirkan tuk menuju lautanmu? Apakah belum sampai di tempatmu? Ataukah memang tidak akan pernah sampai? Jika memang demikian, berarti pesanku pun juga tidak akan pernah tersampaikan kepadamu :’( padahal perahu kertas itu tidak hanya membawa pesan, tetapi juga kuharapkan dapat membawamu kepadaku.

Aku pun hampir setiap hari masih menunggu pak pos untuk datang membawa sesuatu darimu, walaupun aku tahu mungkin yang kutunggu tidak akan pernah datang. Menunggu, itu yang aku lakukan sampai saat ini. Dan aku mempunyai harapan terakhir kepada sang angin. Semoga angin dapat menuntun perahu kertasku tuk menuju tempatmu, atau setidaknya semoga angin dapat membawa pesan rinduku ke telingamu.

Dear kamu…

Saat aku mengetikkan ini mungkin di sana sudah lewat tengah malam. Kamu sedang apa? Sedang tidurkah? Semoga sang malam memelukmu hangat, bintang menghiasi mimpimu, dan rembulan menjaga tidurmu.


***


“sometimes we have to say goodbye not because I don’t care anymore, but because I already loved to much”
“we may not be the best of what we are. We may not talk often. You may cry without me knowing. But I just want you to know that no matter how difficult things can be, in the long run, you still have me”
“karena kita terlalu fiksi, tak pernah jadi eksistensi. Kita berada di zona berbeda, tak mungkin jadi realita. Kita saling menyapa dalam dunia yang tak pernah ada” Karena kita terlalu fiksi – Naluri & Andry Bem
Lanjut yuukk..

Juni 28, 2011

Enam Bulan

Diposkan oleh Yolizz di 22:32 19 komentar Link ke posting ini
Hari ini tepat sudah setengah tahun kurang dua hari aku udah ga nulis di blog ini. Blognya berdebu, ga keurus, ga pernah dikasih makan, jadilah kurus kerempeng kurang gizi gini, huhuhuhu... :'(

Apa kabar dengan temen-temen blogger semuanya? Apa kabar dengan dunia blogging? Sedang sibuk dengan masalah siapa yang copas tulisan siapa? :D take it easy... stay calm... Beberapa tulisan aku juga ada yang dicopy kok, jadi aku tau persis gimana rasanya.

Kalo aku pribadi sih masalahnya bukan hanya sekedar hasil karya dijiplak oleh orang lain, tapi lebih merasa seperti perasaan aku diambil secara paksa, atau bahkan diubah-ubah dengan seenaknya. Ya, tulisanku mencerminkan perasaanku. Aku rasa teman-teman blogger yang dari jaman baheula sering mampir ke blog ini pasti sudah tahu. Terserah amat orang mau bilang apa tentang tulisanku, terserah mau dibilang ga mutu, terlalu lebay, terlalu melankolis, or whatever! Tapi itu adalah perasaanku yang sesungguhnya. Sebuah perasaan yang terkadang tak bisa aku ungkapkan lewat bibir. Jadi, bayangkan saja bagaimana rasanya jika sebuah perasaan diobrak-abrik tanpa ijin. Sakit T_T tapi ya sudahlah. Ga perlu terus-menerus marah-marah atau mengeluh, toh ga akan mengubah keadaan yang ada. Biar Tuhan aja yang bakal ngebales semua itu.

Dan... Sekarang aku mau cerita tentang apa aja yang sudah terjadi selama enam bulan terakhir ini. Hmm.. dimulai dari mana?

Sabtu, 25 Juni kemarin aku kembali bertambah usia. Syukur aku ucapkan karena di tanggal itu aku masih dapat menghirup udara dengan bebas (yah, siapa tau beberapa tahun ke depan udara pun bayar :p)

Hmm.. kuliah? Sekarang udah mau masuk semester 7. Bener-bener berharap aku bisa menyelesaikan KP di semester ini, dan bisa mulai nyusun skripsi juga.

Kerja? Hmm... udah ada prospek untuk ke depannya (semoga) :)

Teman? Si merah alias laptopku ini selalu jadi teman yang terbaik (percayalah, benda mati itu jauh lebih setia :p)

Cinta? Ga ada yang berubah sedikit pun, aku masih 'sakit' (ternyata setengah tahun masih belum cukup untuk menenangkan hatiku :s)

Mellow? Masih. Sering malah :D

Nangis? Serriiiinngg..!! Terutama kalo lagi galau sendirian malem hari T_T

Cengeng? Biarin!

So, what's next? Aku juga ga tau apa yang menungguku di depan sana. Tapi sepertinya jalan di depan terlihat lebih ramai, lebih sibuk, dan lebih melelahkan. Hanya saja aku berharap, dalam perjalanan ini aku masih diperbolehkan untuk merasakan genggaman yang selalu menguatkanku itu...



*sayup-sayup masih terdengar sebuah lagu mengalun*
"kita saling menyapa dalam dunia yang tak pernah ada..."



p.s.: Entah kapan bakal update lagi, mungkin setengah tahun lagi, satu tahun lagi, atau mungkin ini yang terakhir. maaf ya teman-teman :)
Lanjut yuukk..

Desember 31, 2010

Farewell

Diposkan oleh Yolizz di 20:00 33 komentar Link ke posting ini
"menanti seperti pelangi... setia menunggu hujan reda..."
- Desember by Efek Rumah Kaca -


Desember... Ah, sama sekali ga terasa bulan Desember pun sebentar lagi akan berakhir. rasanya baru kemarin aku membuat postingan saat menuju tahun 2010, sekarang 2010 pun akan berakhir...

Ada banyak hal yang membuatku tersenyum lebar di sepanjang tahun ini, dan aku ingin sekali mensyukuri atas semua kesempatan itu... Terima kasih kepada temen-temen blogger yang sepanjang tahun telah sudi untuk mampir ke rumahku ini, terima kasih untuk para sahabat terkasih, juga terima kasih untuk 'seseorang' yang telah menemaniku sepanjang tahun ini.

Ini adalah postingan terakhirku di penghujung tahun 2010, dan juga (mungkin) postingan terakhirku di blog ini. Karena aku berencana untuk tidak menulis di blog ini sampai waktu yang ga bisa aku tentukan, jadi aku pikir mungkin blog ini akan ditutup aja. Temen-temen masih bisa datang ke sini (kalo mau), tapi maaf untuk sementara waktu aku ga akan menulis lagi di sini. Bukan berarti aku sama sekali berhenti menulis, karena bagiku menulis adalah satu-satunya jalanku untuk 'meneriakkan' apa yang aku pikir dan aku rasakan. Hanya saja mungkin aku akan menulisnya di blog yang lebih pribadi, yang hanya segelintir orang yang tahu *cieee.. sok rahasia banget*

Ada awal 2010 maka akan ada akhir 2010.. Yah, beginilah hidup... Itulah yang 'dia' katakan. Kadang di atas, kadang di bawah, dan pada saat aku sedang berada di bawah mau tidak mau aku harus kuat walaupun rasanya sakit seperti terinjak-injak. Tapi lagi-lagi 'dia' bilang segala sesuatu itu akan hilang dengan sendirinya, akan berakhir dengan sendirinya...

Lalu aku bertanya-tanya, apa yang mampu menghilangkan rasa sakit itu? waktukah jawabannya? Menurutku tidak! Berdasarkan pengalamanku, waktu tidak akan pernah menyembuhkan apapun. Waktu hanya akan mampu membuat kita berkompromi terhadap rasa sakit itu. Sedangkan luka itu? Jelas akan masih nampak...

Hmm... sepertinya aku bener-bener mulai ngaco nulisnya *melirik paragraf di atas*. Ya sudahlah mungkin emang lebih baik aku berhenti saja, kasihan rasanya dengan blog ini terus-menerus ditulisi dengan tulisan ngaco, ga jelas, apalagi tulisan-tulisan mellow.. Tapi aku akan nulisnya di blog lain *yaahh, sama aja dong*

Sekarang aku cuma mau ngucapin Happy New Year buat semuanya, semoga temen-temen mendapatkan tahun yang penuh berkah di 2011 nanti, amiiinnn....

Dan untuk aku? Hmmm... sepertinya aku akan kembali membuka 'kotak' yang berdebu itu, mengeluarkan sebuah 'topeng senyum' dan kembali mengenakannya sambil berkata: tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak apa-apa... Seakan dengan mengucapkan 'mantra' tersebut aku akan benar-benar tidak apa-apa...

kembali terdengar alunan musik ERK: "menanti seperti pelangi, setia menunggu hujan reda.." Ya, aku sedang menunggu hujan reda di bulan Desemberku... dan hanya dapat berharap walaupun matahari telah tenggelam, semoga bulan pun tak kan sembunyi di balik awan...

Farewell...
Lanjut yuukk..

Sebuah Dialog

Diposkan oleh Yolizz di 00:05 6 komentar Link ke posting ini
Dia berbaring di sana, di atas tempat tidur kecil yang selalu menghadirkan kenyamanan baginya... Matanya tak kunjung terpejam... Hampir jam 12 malam... Ia pun mendesah, merasa amat lelah tapi mata lagi-lagi tidak bersahabat...

Matanya tetap setia menatap langit-langit kamar yang gelap... Dulu ia berpikir untuk membeli hiasan bintang yang bisa ditempel di langit-langit kamarnya, jika saja sekarang ia telah memiliki bintang itu, mungkin sekarang ia bisa memandangi bintang di langit-langit kamarnya...

Malam makin beranjak larut... Tetapi matanya sama sekali tidak merasa lelah... Tanpa disadarinya, bulir-bulir air pun keluar dari kelopak matanya.... Ah.. dia menangis lagi... Apa dia tidak lelah terus-menerus menangis?

Ingin sekali rasanya memarahi perempuan satu itu, ingin berteriak "Jangan menangis!" kepadanya tetapi selalu saja dihalangi oleh seteruku, si Hati...

Hati: "Dia hanya sedang sakit, jangan memarahinya lagi"
Logika: "Dia terlalu cengeng!"
Hati: "Apa salahnya melampiaskan rasa sakit melalui air mata?"
Logika: "Nanti juga dia akan sembuh, dia cuma butuh waktu"
Hati: "Waktu tidak akan pernah menyembuhkan apapun, waktu hanya akan membuat seseorang menjadi 'terbiasa' akan rasa sakit itu"
Logika: "Hhh... dasar perempuan! bisanya hanya menangisi yang telah terjadi, BODOH!"
Hati: "Perempuan menangis bukan karena dia bodoh, hanya saja terkadang perempuan lelah untuk terus-menerus berpura-pura menjadi kuat"
Logika: "Tapi apa ada gunanya?"
Hati: "Setidaknya biarkan dia menangis saat ia seorang diri, karena dia terlalu lelah untuk terus-menerus memasang senyum palsu di depan orang lain..."
Logika: "Tetapi kenapa dia menangis?"
Hati: "Dia hanya sedang rindu.. percayakah kamu? dia hanya terlalu rindu, menurut logika apakah itu masuk akal?"
Logika: "Rindu... terlalu rindu... ya, dalam cinta semuanya bisa masuk akal"
Hati: "Sepertinya untuk kali ini kita menemui kesepakatan" :)

***

Menghapus air mata, berusaha mengatur nafas... Dia masih belum terpejam, dan ia seakan dapat mendengar sebuah dialog di dalam kepalanya.. Sebuah dialog yang membicarakan tentang hati seorang perempuan... Dan perempuan itu adalah aku...
Lanjut yuukk..

November 27, 2010

Rasa Rindu

Diposkan oleh Yolizz di 23:30 22 komentar Link ke posting ini
malam ini aku sedang bercengkrama bersama hujan... mengadu tentang sebuah kerinduan... kerinduan akan suara ombak... kerinduan desir angin pantai... kerinduan akan jejak-jejak kaki kita di pasir putih itu...

apa?

bagaimana?

mengapa?

pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali bergaung di kepalaku.. mempertanyakan sebuah kerinduan... mempertanyakan tentang sebuah rasa...

melirik aku kepada secercah cahaya di langit yang sedang menangis... tetapi cahaya itu hanya berkedip-kedip seakan sedang menggodaku... lalu cahaya itu menghilang, dan aku bersedih...

tetapi kemudian cahaya itu kembali menyinari, kembali berkedip-kedip seakan ingin mengatakan "aku tidak pergi, aku masih di sini hanya saja tertutupi oleh awan mendung dan hujan yang lebat"...

aku mulai tersenyum kembali... mungkin memang cahaya itu tidak pernah pergi, dia tetap ada di sana.. hanya saja terkadang aku takut kehilangannya....

***

rasanya udah lama banget aku ga nulis di blog ini. hmmm.. rasanya blog ini mulai berdebu deh, atau jangan-jangan di sudut-sudutnya mulai terdapat sarang laba-laba lagi *doh* maaf yah temen-temen, aku emang lagi kesulitan banget buat bagi waktu antara ngeblog dan aktivitas offline lainnya... jadinya gini nih, blog ini ga keurus, hikz... :'(

dan mengingat mulai semester depan aktivitas kuliahku makin padet, kayaknya bakal makin susah buat ngeblog nih :( tapi bakal tetep aku usahain kok, yaahh paling engga sebulan sekalilaahh :D mungkin pada saat-saat di mana aku merasa kangen buat nyoret-nyoret, atau saat di mana aku pengen bermellow-mellow ria, saat-saat seperti itu pasti aku bakal balik lagi ke blog ini, hehe... seperti sekarang, saat aku merasakan rasa rindu yang amat sangat di dada.. rasa rindu untuk kembali bercerita, berbagi atau bahkan sekedar nulis ga jelas di blog ini... semoga aku bisa mengawalinya lagi dengan baik...

okeh deh, see u soon (i hope) :)
Lanjut yuukk..
 

Coretan Kehidupanku... Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal